Karena cita-cita itu setinggi langit
Gantungkan cita-citamu setinggi langit, begitu yang sering disampaikan Bapak/Ibu guru saya dulu. Saya tidak paham arti kalimat itu selain bahwa setinggi langit itu sama dengan menjadi doktor, insinyur, pengacara, pejabat, dan beberapa profesi prestigious lainnya.
Belum pernah terpikir bahwa cita-cita setinggi langit itu adalah menjadi guru. Apalagi profesi yang dipandang kebanyakan orang sebagai profesi rendah.
Jika saya ditanya oleh murid-murid, kenapa cita-cita harus setinggi langit, sekarang saya tahu jawabannya.
Cita-cita setinggi langit adalah sesuatu yang absurd karena tidak ada yang tahu berapa tingginya lagit yang seakan memayungi bumi. Dan karenanya mempunyai cita-cita setinggi langit adalah sesuatu yang tidak ada batasnya.
Ketika seorang anak mengatakan saya ingin menjadi supir truk, maka guru tidak boleh tertawa. Karena itulah cita-cita. Bagi si anak barangkali saat itu yang menjadi idolanya adalah supir truk. Yang ada di dalam mimpinya, supir truk adalah yang terjago, karena mobilnya besar dan gagah. Guru harus mengatakan: Nak, itu cita-cita yang mulia. Kalau engkau sudah menguasai seluk-beluk truk-mu, cobalah rancang truk yang bisa nyaman dipakai, cobalah buat truk yang tidak boros bahan bakar yang bisa membantu Pak tani mengangkut hasil panennya ke pasar dengan murah dan mudah. Gantungkan cita-citamu setinggi langit, Nak !
Bahwa menggantungkan cita-cita ke langit adalah sesuatu yang mustahil, apalagi menggapainya. Tetapi spiritnya mengajarkan bahwa langit adalah sesuatu yang membutuhkan kerja keras untuk menggapainya. Sebagaimana kenapa selalu dikatakan surga itu di langit Allah. Begitulah, karena surga adalah tempat yang membutuhkan kerja keras untuk memasuki apalagi menghuninya selamanya.
Karena cita-cita kita setinggi langit, maka kita seharusnya tak boleh kehabisan semangat dan keyakinan kepadaNYa untuk mencapainya. Ketika telah menjadi guru, inginkanlah menjadi guru yang lebih baik, lebih mulia. Ketika sudah menjadi Professor, maka jadilah professor yang tawaddhu dan mulia. Yang karenanya bukankah hidup ini akan menjadi senantiasa bergerak dan bersemangat.




















