Wacana

UAN serius, UAS nyantai

Selain pelaksanaan UAN yang menuai banyak penyelewengan, beberapa guru yang saya temui pun mengeluhkan pelaksanaan UAN yang berlangsung sebelum UAS.  Di sebuah media saya membaca alasan yang agak sulit saya mengerti, bahwa pelaksanaan UAN diusahakan sebelum HARDIKNAS karena ditakutkan banyak protes yang masuk pada tanggal 2 Mei, untuk menggagalkannya.  Apakah ini bukan sebuah paranoid yang berlebihan ?

Tapi komentar, keluhan guru di lapang barangkali layak didengar untuk memperbaiki kondisi pendidikan kita.  Seorang guru bercerita bahwa untuk mempersiapkan siswa menghadapi UAN yang berisikan tidak semua mata pelajaran itu, guru harus mendrill siswa berbulan-bulan bahkan jam pelajaran tambahan pun diperlukan dan alhasil dimintakan pula kerelaan kepada guru-guru non UAN untuk melepas jamnya.  Setelah UAN berhasil dilaksanakan, muncul masalah baru, yaitu semangat siswa yang kendor untuk mempersiapkan UAS.

Fenomena ini dipicu pula oleh `jaminan lulus` yang diyakini siswa sebab bocornya berita bahwa guru-guru akan membantu siswa dengan mengoreksi jawaban siswa yang salah untuk memenuhi skor kelulusan minimal UAN.  Ini semakin membuat siswa malas dan tidak peduli dengan UAS.  Kalau pun nilai UAS gagal tak ada masalah sebab mereka pasti bisa lulus dan mengenggam ijazah SMA.

Jika demikian adanya, sekalian saja UAS tidak usah dilaksanakan.  Dan kalau perlu mata pelajaran UAS dihapus saja !

Saya berargumen bahwa sekalipun lulus, siswa-siswa tersebut akan kesulitan mengikuti pendidikan di PT.  Teman guru berkelit bahwa para siswa tak punya keinginan untuk lanjut PT, yang mereka butuhkan hanya ijazah SMA untuk bekerja yang agak layak.  Sekalipun mereka lanjut ke PT, banyak pula PT/akademi/Sekolah Tinggi yang menawarkan program `yang penting kuliah`, dan bisa mendapat gelar sarjana atau ahli madya.

Tampaknya pendidikan di negara kita cenderung hanya mengejar ijazah dan gelar.  Lalu di mana seharusnya motivasi menjadi orang terdidik itu diasah ? Di mana seharusnya tekad untuk menjadi orang yang lebih beradab itu harus ditumbuhkembangkan ?

Dalam perjalanan saya pulang dari Makassar dan dilanjutkan dalam bis yang saya tumpangi ke Jakarta, sempat saya baca beberapa essay yang ditulis J. Drost, pakar pendidikan Indonesia yang sudah meninggal.  Beliau katakan pendidikan di Indonesia seharusnya menyediakan sekolah bagi siswa yang mampu di bidang akademik (30%) dan mampu di bidang keprofesian (70%). Oleh karenanya yang 30% seharusnya masuk sekolah umum dengan kurikulum khusus, dan yang 70% masuk sekolah keterampilan atau kejuruan dengan kurikulum khusus pula.

Tapi lagi-lagi UAN mementahkan ide ini.  Adanya UAN yang diberikan di semua tingkatan/ragam sekolah (umum atau kejuruan), bersifat nasional pula (mementahkan ide desentralisasi dan otonomi daerah), lalu menjadi persyaratan lulus pendidikan menengah, adalah suatu kebijakan yang hanya menghabiskan dana tetapi tidak berhasil memetakan sekolah-sekolah sebagaimana ide dasarnya, atau pun tidak menggambarkan prestasi murni siswa-siswa Indonesia, dan kita kembali gagal untuk memahami, mengarahkan, membina anak berdasarkan talentanya.  Semuanya dipukul rata, harus bisa lulus UAN !Dan guru-guru pun terkungkung kesempatannya untuk mengeskplorasi kemampuan mengajarnya dikarenakan target harus 100% lolos UAN yang ditekankan secara implisit maupun eksplisit dari pihak penguasa di daerah.  UAN sudah menjadi makanan politik pula !

Usul : Mungkin sudah basi karena sudah sering diomongin : ujian kelulusan SMA berdasarkan ujian sekolah.  Pemetaan dan pengembangan sekolah-sekolah serahkan pelaksanaanya kepada daerah. Berhenti menjalankan otonomi yang setengah-setengah : disuruh jalan tapi ekor tetap dipegang ! Keluarkan kebijakan yang sesuai data di lapangan. Ikutkan guru membicarakan kebijakan yang ditujukan atau ada sangkut pautnya dengan mereka, jangan hanya menjadi obrolan lalu disetujui dengan ketokan palu di dewan.

Tanggapan

  1. ibu/bapak guru yg baik kami menyarankan agar WC nya dirawat kalau tidak direnovasi agar semua siswa merasa nyaman dan tidak tergangu oleh bau yg tidak sedap dan fasilitasnya banyak yg rusak tolong dipertimbangkan??????????????


Beri tanggapan

Your response: