Wacana

Kekuatan orang tua di dalam komite sekolah


Siang itu saya menjadi pendengar sekaligus murid yang baik, dan dalam kepala saya berputar-putar kekaguman yang kemudian memunculkan ide menarik tentang pengembangan sekolah di Indonesia. Walaupun apa yang diceritakan beliau adalah sebuah kasus yang tak bisa digeneralisasi, tapi sedikit banyak memberikan gambaran bagaimana peran komite sekolah, atau lebih tepatnya peran orang tua dalam mengembangkan sekolah.

Saya mencoba menganalisa dan membuat kesimpulan sementara tentang peran orang tua dalam komite sekolah. Seperti BP3 atau PMOG, peran komite sekolah masih berkutat pada pendanaan sekolah. Karena ini memang masalah yang paling gampang untuk mengajak keterlibatan orang tua dalam memanage sekolah. Dan seperti sudah diketahui umum bahwa uang punya kekuatan, yang karenanya orang tua pun punya power di hadapan kepala sekolah dan guru.

Tapi masalah uang bukan masalah inti. Di sekolah teman saya tadi, ditarik iuran 1000 rupiah per bulan untuk semua siswa dalam sebuah persiapan acara tertentu. Tidak membedakan yang kaya atau miskin, semuanya dipukul ratadan bagi siapa yang mau menyumbang lebih dipersilahkan. Pola ini menarik. Ada orang kaya yang tak mau kelihatan bahwa dia kaya sehingga tidak mau membayar lebih dibandingkan orang lain. Sebaliknya orang tak mampu tak juga bisa membayar mahal, tapi akan merasa perih jika terkategorikan tak mampu bayar. Karenanya standar 1000 rupiah mungkin tak memberatkan mereka. Tinggalah mendekati yang kaya agar mau menyumbang lebih. Uang yang terkumpul jelas pemanfaatannya, dilaporkan dengan jelas, sehingga yang semula tak rela di awal menjadi puas juga.  Jadi masalah intinya adalah bagaimana mengelola penarikan uang dan memanfaatkannya untuk kemajuan sekolah.

Komite sekolah pun menjadi penengah antara guru dan kepala sekolah yang tak akur. Ya, pengelolaan sekolah tak akan berjalan jika komite sekolah berpihak ke salah satunya. Tapi ketakakuran guru dan kepala sekolah adalah error dalam managemen sekolah yang tak bisa dibiarkan saja. Dan komite sekolah mungkin tak punya power untuk ini. Karenanya saya punya ide menghadirkan lembaga konsultan sekolah untuk membantu agar guru dan kepala sekolah memahami peran masing-masing dan memahami pola bekerja Plan Do Check Action (PDCA). Saya pikir guru perlu belajar menganalisa pendapat kepala sekolah sebelum menyatakan penolakan, demikian pula kepala sekolah harus bisa menganalisa idenya dengan tepat, misal menggunakan SWOT, sehingga idenya dapat dipertanggungjawabkan dan mudah dipahami. Nah, bagaimana peran komite sekolah ? Komite sekolah yang sudah menanam kepercayaan di mata pengelola sekolah harus bergerak mendanai pelatihan bagi guru dan kepsek. Seharusnya memang tugas pemerintah, tapi DIKNAS sepertinya punya pola kebijakan yang sama untuk semua sekolah tanpa ada penspesifikasian jenis masalah yang dihadapi setiap sekolah.

Beberapa komite sekolah dipegang oleh bapak-bapak, dan kaum ibu biasanya menempati posisi bendahara atau sekretaris. Ini masalah gender juga. Berdasarkan kisah teman saya dan juga keluhan beberapa sekolah yang mengatakan pengurus komite sekolahnya sulit dihubungi karena orang-orang sibuk semua, saya cenderung menyarankan untuk memercayakan pengelolaan komite sekolah kepada kaum ibu. Mereka sangat paham dengan keperluan anak-anaknya, menerima laporan langsung dari anak-anaknya tentang peristiwa di sekolah setiap hari, dan mereka punya jaringan yang kuat. Ibu-ibu dengan mudah bersosialisasi dan membentuk network semacam kelompok pengajian atau arisan. Ini yang menjadikan motivasi dan intensitas pertemuan mereka tinggi. Dibandingkan dengan kaum bapak. Tinggal menyeleksi dari kalangan ibu, siapa yang punya gaya leader, yang punya gaya memanage, gaya sosialisasi tinggi, pandai bernegosiasi, dialah yang harus dijadikan ketua komite sekolah.

Saya teringat istilah Parent Teacher Association (PTA) yang menjadi cikal bakal melibatkan orang tua dalam manajemen sekolah sebenarnya bermula dari gerakan kaum ibu di Amerika. Yang kemudian berkembang menjadi gerakan nasional.

Seperti pada beberapa conference yang saya ikuti di Korea di antara peserta yang hadir selalu saja ada wakil kaum ibu yang penuh minat dengan pendidikan anaknya. Saya bercita-cita mengadakan conference serupa untuk para ibu (bapak juga boleh) pengurus komite sekolah agar mereka dapat belajar dan tukar informasi tentang keberhasilan pengelolaan sekolah dari sesamanya.

Beri tanggapan

Your response: