Oleh: SMP Negeri 1 Dolopo Madiun, Jawa Timur, Indonesia | 7 Mei 2008

Konsep SBI Masih Belum Jelas

Maraknya penyelenggaraan sekolah bertaraf internasional (SBI) dinilai masih menyisakan konsep yang belum jelas. Ketidakjelasan konsep dikhawatirkan memunculkan kesenjangan baru dalam pendidikan kita.

Demikian benang merah pendapat pakar pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Prof. Dr. Said Hamid Hasan, M.A. dan Prof. Dr. Djam’an Satori. Keduanya dimintai pendapat di Bandung, Selasa (6/5), terkait wacana rintisan sekolah bertaraf internasional (SBI).

“Internasional yang dimaksudkan seperti apa? Apakah sekadar menggunakan bahasa Inggris dalam penyampaian mata pelajaran dan perangkat komputer, lantas dinamakan pendidikan yang dipakai sudah berstandar internasioanal? Di Inggris kan juga menggunakan bahasa Inggris, tetapi mereka tidak menyebutkan telah bertaraf internasional,” kata Djam’an Satori.

Di sisi lain, Said Hamid Hasan menegaskan penggunaan istilah seharusnya mempunyai konsep yang jelas. Jangan semata-mata menggunakan bahasa Inggris terus dibilang internasional. “Di pesantren Gontor juga menggunakan bahasa Inggris dalam proses belajar mengajarnya. Akan tetapi, mereka tidak pernah menyebutkan mereka telah berstandar internasional,” tuturnya.

Awal mula konsep SBI, menurut Said, lebih dilatarbelakangi kenyataan sebagian masyarakat Indonesia yang mampu dari segi finansial. Mereka kerap menyekolahkan anaknya ke luar negeri. “Nantinya banyak uang yang terserap ke luar negara, dan itu satu bentuk kerugian bagi negara kita. Agar tidak terjadi hal itu, kita mencegahnya dengan mengeluarkan kebijakan pendidikan SBI,” ujarnya.

Tidak jelas

Lebih lanjut Said mengatakan, yang terjadi saat ini semakin tidak jelas. Apalagi, penerapan SBI untuk sekolah menengah atas (SMA). Said mencontohkan, standar di Inggris saja lebih mengutamakan pada pembinaan untuk lulusan SMA yang ke perguruan tinggi (PT).

“Kenapa di negara kita dinamakan standar internasional, kenapa tidak dibilang standar Indonesia saja. Ketidakjelasan SBI tingkat SMA justru seperti itu. Pembinaannya lebih baik diarahkan untuk mengejar kompetensi mereka di PT nantinya,” katanya.

Menurut Said, dengan konsep SBI yang tidak jelas justru berimbas pada kesenjangan pendidikan yang lebih tajam. Pada satu sisi memang terkesan ada perbaikan mutu pendidikan. Akan tetapi di sisi lain, untuk sekolah yang belum SBI, mereka akan merasa sekolahnya tidak bisa dibanggakan. “Hal ini menyebabkan diskriminasi dalam pendidikan. Tentu saja kebijakan itu tidak baik untuk situasi sosial masyarakat kita saat ini,” katanya.

Said menuturkan, tidak hanya siswa yang merasa didiskriminasi, tetapi guru juga akan merasa seperti itu. “Sekolah yang sudah SBI kan menggaji gurunya lebih tinggi dari yang tidak ber-SBI. Padahal, seharusnya tenaga pendidik memiliki kualifikasi yang sama pada saat mengajar,” ucapnya. (CA-186)***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: