Oleh: SMP Negeri 1 Dolopo Madiun, Jawa Timur, Indonesia | 7 Mei 2008

SBI Bukan Bentuk Eksklusivisme

Sekolah bertaraf internasional (SBI) dijanjikan tidak akan menimbulkan eksklusivisme. Meskipun biaya pendidikan yang dibebankan lebih mahal, masih ada sistem subsidi silang dan pembebasan biaya sekolah.

Kepala Sekolah SMAN 3 Bandung Encang Iskandar mengatakan hal itu di Bandung, Selasa (6/5). SMAN 3 Bandung menjadi salah satu rintisan SBI di Provinsi Jabar.

Ia menuturkan dana sumbangan pendidikan (DSP) untuk masuk Rintisan SBI (RSBI) kategori by subject di SMAN 3 Bandung sebesar Rp 3,5 juta. Sementara itu, iuran SPP sebesar Rp 200 ribu/bulan. “Akan tetapi, siswa yang berpotensi untuk berkembang di kelas SBI akan dibebaskan biaya sekolah,” ujar Encang.

Selain itu, ada mekanisme subsidi silang dan alokasi anggaran 15 persen dari total dana SBI sebesar Rp 300 juta untuk beasiswa. “Bahkan, siswa yang berprestasi mendapat beasiswa dari yayasan alumni,” ucapnya. Menurut Encang, dari awal pembentukan konsep kelas RSBI tetap bersifat inklusif. Pengelolaan subsidi silang diharapkan akan meminimalkan potensi eksklusivisme . “Seandainya dana subsidi silang belum cukup membantu siswa berprestasi yang kurang mampu, kita masih akan menggulirkan beasiswa dari sekolah,” ucap Encang menjelaskan.

Lebih lanjut, kata Encang, kelas RSBI harus didukung dengan fasilitas yang benar-benar memadai. Seperti, setiap ruang kelas harus dilengkapi dengan sarana pembelajaran berbasis information and communication technologies (ICT). Selain itu, penyampaian materi dan interaksi dilakukan dengan bahasa Inggris atau bilingual selama tidak mengubah substansi materi.

Sama halnya dengan SMA, SMKBI pun menerapkan sistem pembelajaran yang sama. Menurut Kepala Sekolah SMKN 7 Bandung, Entis Sutresna, sebuah SMKBI harus berakreditasi minimal A dari Badan Akreditasi Nasional-Sekolah dan Madrasah (BAN-S/M). Sebagai tambahan SMKBI pun dapat memperoleh akreditasi dari badan akreditasi sekolah pada salah satu negara anggota Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD) atau dari negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu di bidang pendidikan.

Kepala Sekolah SMPN 5 Bandung, Dradjat Sudradjat menuturkan, dari segi tenaga pendidik, mereka harus memiliki kompetensi berstandar internasional, termasuk TOEFL minimal 450. Semua guru harus mampu menyampaikan pembelajaran berbasis ICT dengan menerapkan kurikulum nasional sebagai pedoman.

Koordinator SBI SMPN 5 Bandung, Agus Deni mengatakan, dana yang dianggarkan untuk SBI belum mencukupi peningkatan mutu dan pengadaan infrastruktur. Pasalnya, untuk mendirikan sebuah projek prestisius yang melibatkan pembiayaan dari pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota itu memerlukan dana yang tidak sedikit. (CA-172/CA-177)***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: