Oleh: SMP Negeri 1 Dolopo Madiun, Jawa Timur, Indonesia | 8 Mei 2008

KETIKA SEKOLAH KITA TIDAK LAGI MENJADI PILIHAN !!

Tentunya kita sebagai seorang guru atau pendidik jarang atau bahkan tidak pernah memikirkan pokok pemikiran diatas. Mungkin hanya 1:100 yang mau bahkan mampu berpikir kearah tersebut. Entah karena kita (guru) merasa hanya telah menunaikan tugas sebagai pengajar saja, atau karena ada faktor external yang lain sehingga tidak terlintas dibenak dan pikiran kita akan hal tersebut.

Disisi lain, kebanyakan guru sebagai pendidik merasa tugasnya hanya mengajar, menulis, mengoreksi dan menasehati para siswanya. Dan jarang pula guru yang mau memberikan laporan hasil pengajarannya kepada Kepala Sekolah atau dinas terkait. Sehingga perkembangan dari kualitas dan kuantitas guru tidak ada yang memonitor atau mengoreksi. Padahal disisi lain, perkembangan lingkungan pendidikan di sekolah tidak lepas dari penilaian dan pengamatan masyarakat. Kita sebagai guru kadang tidak terlintas bagaimana cara mempertahankan atau meningkatkan kualitas dan kuantitas sekolah yang kita naungi. Ibarat orang kerja adalah datang, melaksanakan tugas, selesai dan pulang, tanpa mau tahu perkembangan dan situasi sekolah. Benarkan ini ? Mungkin sebagian guru membenarkan image tersebut, karena mempunyai pemikiran yang menurut dia benar. Tipe guru yang seperti ini biasanya mempunyai kegiatan atau job lain (other works) selain mengajar yang mungkin notabene menghasilkan financial yang lebih besar.

Kualitas dan kemajuan sekolah tergantung sepenuhnya dari kualitas guru dan sistem pengajarannya. Banyak sekolah negeri atau swasta yang dulunya menjadi favorit dan kini telah tinggal namanya. Fenomena ini biasanya terjadi karena sistem menejemen sekolah yang amburadul. Keamburadulan system menejemen ini disebabkan karena adanya konflik dan polemik yang terjadi di sekolah, yang berakibat pada perpecahan (blok) antar guru yang tidak menyetujui kebijakan-kebijakan dari sekolah yang telah ditetapkan. Sehingga, Kepala sekolah yang seharusnya sebagai head office tidak berkuasa sepenuhnya untuk mengatur kebaikan sekolah. Dan penulis yakin, banyak pula terjadi blok (gap) yang terjadi di sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lain yang disebabkan karena adanya permasalahan tersebut.

Terjadinya gap-gap (blok) antar guru atau lebih ekstrimnya disebut sebagai oposisi kanan atau kiri, akan menimbulkan dampak yang luar biasa terhadap perkembangan dan kemajuan sekolah. Kesenjangan ini pada ujung-ujungnya akan berimbas pada anak didik (siswa). Konflik dan polemik yang terjadi pada sekolah tentunya akan menimbulkan lemah semangat guru dalam mengajar. Seperti datang terlambat, sering tidak masuk (kosong), siswa hanya dikenai tugas, atau bahkan datang namun tidak mau mengajar. Bagaimana tanggung jawab guru yang sebenarnya? dosa siapa dan salah siapa? namun yang pasti adalah anak didik (siswa) kelak yang akan menanggung resikonya, yaitu kegagalan-kegagalan pada masing-masing periode kelulusan. Memang benar, seharusnya diantara guru dan kepala sekolah atau pihak yang terkait harus ada yang mengalah (legowo) dan mau berprinsip saling berebut salah dan jangan saling berebut benar.

Anak didik pada jaman sekarang memang jelas berbeda di era Sukarno dan Suharto. Ibaratnya jaman sekarang adalah jaman yang serba instant dan jaman dulu adalah jaman yang penuh dengan keprihatinan. Rata-rata siswa sekarang ini apabila disuruh berpikir yang agak berat bisa dipastikan tidak mampu dan tidak mau. Mungkin para guru yang sekarang sudah purna tugas atau yang masih bertugas merasakan bahkan pernah mengungkapkan akan hal tersebut. Di jaman sekarang mencari anak yang cerdas, cerdik dan pandai sangatlah susah, padahal di era sekarang banyak siswa yang mengikuti bimbingan belajar atau bimbingan terpadu, namun bagaimana hasilnya? Realita, dari kesekian penyelenggara bimbingan belajar, hanya beberapa persen yang ikut mendidik siswa untuk mandiri. Artinya mau memberikan motivasi dan koreksi belajar siswa, membantu memberikan cara (trik) menyelesaikan tugas yang diberikan dari sekolah tanpa berarti menyelesaikan atau mengerjakan tugasnya siswa.

Sekolah di era tahun 80 dan 90an, apabila ada satu pelajaran yang kosong, para siswa akan mengatakan : “Ya kosong!”, sehingga tanpa menunggu perintah, ketua kelas langsung mencari guru piket untuk minta tugas yang telah diberikan dari guru pelajaran yang bersangkutan, atau guru piket tanpa menunggu laporan dari anak didik segera menunaikan tugasnya untuk menyampaikan tugas yang telah menjadi tanggungjawabnya. Namun bila keduanya benar-benar tidak ada, dengan kesadaran pada siswa segera menunju ke perpustakaan untuk mencari kesibukan. Namun lain sekolah di jaman sekarang apabila ada informasi bahwa pelajaran A kosong, atau guru tidak masuk, anak-anak akan merasa bahagia teramat sangat, sampai-sampai terungkap kata: Hore! Yes! bahkan Alhamdulillah, sehingga mengakibatkan kelas menjadi rame dan anak berkeliaran kemana-mana. Bagaimana tanggung jawab kita sebagai guru? Apakah kita juga merasa prihatin akan keadaan sekarang? Memang kesadaran anak akan pentingnya belajar saat ini sangatlah kurang. Benarkah ini disebabkan karena kemajuan jaman ataukah karena kurangnya pengawasan dan kesadaran akan tanggungjawab kita sebagai guru?

Kita sebagai guru tentunya harus merasa prihatin akan hal tersebut. Guru apabila sering tidak mengajar akan tetap mendapatkan hak gaji setiap bulannya. Namun permasalahannya adalah telah sesuaikah gaji yang telah kita terima dengan prosentase pengajaran yang kita diberikan kepada siswa? Bagaimana perasaan kita saat menerima dan menggenggam gaji ditangan, kalau cara kerja kita asal-asalan?. Siswa akan tetap merasa senang apabila banyak jam kosong. Disisi lain kadangkala kita menyadari bahwa sebenarnya nanti mereka juga yang rugi, namun kita sebagai guru tidak pernah mengungkapkannya, hanya karena rasa malu kita untuk menutupi kecurangan dan ogah-ogahan kita dalam mengajar. Kapan anak didik (siswa) dan sekolah kita bisa berkualitas dan maju kalau masalah-masalah tersebut diatas masih timbul dan tidak ada penyelesaiannya?

Akhir-akhir ini banyak sekolah yang oleh pemerintah ditunjuk dan dinobatkan sebagai Sekolah Standart Nasional (SNN) atau SBI (Sekolah Berbasis Internasional). Namun permasalahan yang timbul adalah sudah benar dan relevankah kebijakan tersebut ? dari sudut pandang mana dan strategi yang bagaimana sehingga sebuah sekolah bisa dinobatkan sebagai SSN atau SBI? perlukah ini sebagai bahan kajian? Ya! Kita sebagai guru yang seharusnya mengkaji semua itu. Terkadang sebuah sekolah yang menyandang gelar sebagai SNN hanya bisa menikmati akan gelar yang diberikan oleh pemerintah, namun sebenarnya sekolah dan para komunitasnya dibebani tanggung jawab yang cukup besar.

Sekolah yang bergelar SSN atau SBI oleh pandangan masyarakat bisa disebut sebagai Sekolah Pilihan. Pihak sekolah yang terkait merasa bangga akan sebutan dari masyarakat tersebut. Bagaimana tidak, setiap kali Penerimaan Siswa Baru (PSB) akan dijubeli dengan para pendaftar-pendaftar yang ingin dapat bersekolah di sekolah yang diimpikannya. Namun seharusnya pihak sekolah berfikir, apakah kelak sekolah kita tetap akan menjadi pilihan dari masyarakat? Namun seharusnya sekarang ini kita harus beralih pandangan dan buka mata kita, bagaimana agar sekolah kita bisa meningkat menjadi Sekolah Tujuan dan bukan lagi Sekolah Pilihan.

Sekolah Pilihan yang dimaksud oleh penulis disini adalah bahwa diantara sekian banyak sekolah yang berdiri pada suatu daerah selain sekolah kita, masih ada sekolah lain yang mungkin mutu dan kualitasnya dibawah, hampir, atau bahkan sama dengan sekolah yang kita naungi. Namun masyarakat masih menganggap bahwa sekolah kita masih lebih baik dibandingkan dengan sekolah lain. Entah karena dari sistem pendidikan, kualitas dan fasilitas sekolah. Dan Sekolah Tujuan yang dimaksud oleh penulis adalah bahwa sekolah kita telah benar-benar dinobatkan dan merupakan sekolah kepercayaan dari masyarakat. Entah karena faktor mutu pendidikan, pengajar, fasilitas, prestasi-prestasi sekolah yang diperoleh serta kualitas kelulusan siswa yang benar-benar dapat dihandalkan. Yang tentunya sekolah lain tidak akan bisa mengunggulinya, atau bisa dikatakan sekolah kita yang tetap didepan.

Hanya kita sebagai guru yang bisa mempertahankan, meningkatkan, atau bahkan merobohkan gelar yang telah diberikan oleh pemerintah dan masyakarat. Kualitas guru dan pendidikan perlu dijaga dan ditingkatkan untuk menciptakan ke Sekolah Tujuan. Kita jangan hanya berbangga hati apabila sekolah kita dianggap sebagai sekolah favorit atau unggulan. Kita jangan hanya berpangku tangan, dan hanya mengandalkan guru yang lebih senior atau professional untuk menangani masalah-masalah kemajuan sekolah. Padahal disisi lain, sekolah lain berusaha untuk menciptakan sekolah yang benar-benar menjadi harapan, dambaan dan tujuan para siswa untuk belajar serta meraih masa depannya. Mungkin ada asumsi dari sebagian guru yang mengatakan, “Ya biarlah sekolah lain saling berlomba-lomba untuk menjadi sekolah tujuan, yang penting kita tetap damai dengan keadaan seperti ini (wait and see).” Asumsi seperti inilah yang nantinya akan membuat kualitas sekolah kita akan semakin terpuruk, dan akibatnya sekolah kita lambat laun akan tersisih karena kalah dalam persaingan.

Sudah siapkah kita beranjak untuk menciptakan sekolah tujuan dan mencoba untuk tinggal landas dari jabatan sebagai sekolah pilihan? Berangkat dari sekolah pilihan atau favorit atau bahkan sekolah biasa, tentunya kita bisa! Tinggal kita sebagai guru ada niat atau tidak untuk menggugah hati dan pikiran kita dalam menuangkan ide dan sebagai pencetus untuk bersama-sama menciptakan sekolah tujuan. Peningkatan mutu, kualitas guru dan fasilitas sekolah sangatlah berperan dalam hal ini. Komunikasi yang interaktif dan saling sharing antar kepala sekolah, guru dan staff bahkan para pelajar memang harus dijaga, sehingga kesepakatan, kekompakan dalam tujuan akan terbentuk. Ketegasan dan mendisiplinkan siswa harus diawali dulu pada kedisiplinan guru. Peraturan sekolah harus diterapkan karena masih ada komunitas sekolah yang perlu ditertibkan dan dibenahi. Konsekuensi bersama untuk tidak melanggar peraturan memang harus ditanamkan pada guru dan siswa. Menciptakan sekolah tujuan memang tidaklah mudah. Semua komunitas sekolah harus benar-benar terlibat, sadar akan tugas, tanggung jawab serta kewajibannya. Bagaimana dengan anda dan sekolah anda? akankah tertantang?

Penulis, Guru TIK SMPN 1 Dolopo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: