Oleh: SMP Negeri 1 Dolopo Madiun, Jawa Timur, Indonesia | 15 Mei 2008

Penyelamatan Lingkungan via Sekolah

KONDISI lingkungan di Kota Madiun makin hari kian memprihatinkan. Penurunan kualitas lingkungan terjadi akibat pencemaran air, udara, tanah, serta pengabaian penghijauan, ketersediaan air bersih, keberadaan industri, pengelolaan sampah, serta perkara pertanahan.

Perkembangan kota yang pesat akibat pertambahan penduduk serta kegiatan usaha dan bisnis adalah faktor pemicu. Hal itu diperparah oleh perkembangan teknologi industrial yang berorientasi produksi massal serta kesadaran masyarakat yang rendah akan kualitas lingkungan. Apalagi pengawasan dan pengendalian terhadap berbagai kegiatan, misalnya pembangunan perumahan yang cenderung merusak lingkungan, agak terabaikan.

Tak pelak, perlu keterlibatan segenap pemangku kepentingan untuk berperan serta memelihara, menjaga, dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Tak terkecuali para pengajar, baik dari tingkat pendidikan terendah sampai ke jenjang perguruan tinggi.

Lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan seyogianya dengan gigih mendidik masyarakat untuk menjaga lingkungan. Pemerintah dengan segenap aparat dan perangkat kerja menjalin kemitraan dengan pengelola industri, rumah sakit, pemilik pabrik, dan berbagai komponen lain untuk menekan seminimal mungkin pencemaran lingkungan. Tentu saja, undang-undang mengenai lingkungan hidup harus diterapkan secara konsekuen, tegas, tanpa tebang pilih.

Perbaikan lingkungan di Kota Madiun perlu dilakukan melalui pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana dan penuh rasa tanggung jawab. Semua itu diarahkan untuk kelangsungan hidup generasi yang akan datang, anak-cucu kita.

Kesamaan visi-misi dan keserentakan kerja segenap komponen itu harus didasari pengetahuan mendalam serta sikap dan kepedulian terhadap lingkungan, baik lokal maupun global. Pengetahuan, sikap, dan keterampilan tersebut bisa diperoleh melalui pendidikan, baik formal maupun informal. Dengan kata lain, soal lingkungan hidup perlu diintroduksikan ke sekolah, jika mungkin dalam setiap mata pelajaran atau diterapkan dalam wujud gerakan penyelamatan lingkungan.

Kecil Menanam, Dewasa Memanen

Gerakan penyelamatan lingkungan bisa diwujudkan melalui program “Kecil Menanam, Dewasa Memanen” (KMDM). Program yang ditujukan kepada siswa SD/SMP itu mengandung pesan moral mengenai kepedulian terhadap lingkungan hidup. Melalui gerakan menanam dan memelihara tanaman di sekolah bagi setiap siswa bisa diharapkan, kelak, mereka mempunyai minat dan akhirnya tumbuh kecintaan terhadap lingkungan hidup.

Pada tingkat operasional, program itu bisa diwujudkan berupa kebun bibit sekolah (KBS). Setiap siswa didorong menanam dan memelihara tanaman yang disesuaikan dengan kondisi geografis serta jenis dan struktur tanah di sekolah masing-masing. Tanaman itu bisa berupa tanaman hias, buah-buahan, atau tanaman perindang. Para siswa diajari dan dilatih bercocok tanam, meliputi penyediaan media tanam, pemilihan benih, penyemaian dalam polibek, serta pemeliharaan. Pemeliharaan sendiri meliputi kegiatan penyulaman, pengendalian gulma atau hama, pemupukan, dan penyiraman.

Bagi setiap siswa tersedia lembar pengamatan tanaman yang harus diisi setiap hari. Jadi, mereka mengetahui dan mempunyai gambaran tentang perkembangan tanaman masing-masing. Apa pun hasilnya, setelah dievaluasi, semangat siswalah yang jadi skala prioritas dalam kegiatan tersebut.

Pengelolaan Sampah

Wujud lain adalah pengenalan dan praktik pengelolaan sampah. Para siswa diajak mengamati dan membersihkan lingkungan sekolah serta mengelola sampah di sekolah dengan prinsip 3R, yakni reduce, re-use, dan re-cycle. Itulah langkah konkret untuk mengurangi, memanfaatkan, dan mendaur ulang sampah.

Sampah di sekolah dipilah-pilah dan dipisah-pisah antara sampah organik dan nonorganik dengan tempat sampah berbeda. Sampah organik diolah menjadi kompos melalui teknik pembuatan kompos dengan keranjang takakura, keranjang pembuat kompos.

Kompos kemudian digunakan sebagai media tanam di kebun bibit sekolah. Sampah nonorganik seperti botol plastik dan kaleng dibuat pot, sedangkan kertas atau kardus dijadikan bahan kerajinan berupa tas, peta, atau mainan.

Penanaman kesadaran dan kepedulian terhadap kualitas dan kelestarian lingkungan hidup sejak dini ke para siswa akan menimbulkan efek positif jangka panjang. Kesadaran dan kepedulian siswa itu menjadi sikap dasar, yang bakal memunculkan perilaku yang lebih berwawasan lingkungan di keluarga dan lingkungan masing-masing.

Bila setiap SD/SMP di Kota Madiun memberlakukan program tersebut, tentu peluang keberhasilan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai betapa penting menjaga dan memelihara kualitas lingkungan pun makin besar. Sebab, setiap siswa bisa menjadi “agen” penyelamat lingkungan yang proaktif menularkan kesadaran mengenai betapa penting menjaga lingkungan di komunitas masing-masing.

Dengan demikian, bisa diharapkan masalah lingkungan bakal teratasi berkat peningkatan kesadaran masyarakat yang lebih merata.

Perlu optimisme bahwa penyelamatan bisa dimulai dari gerakan kecil atau sederhana, yang terjangkau daya pikir dan jelajah para siswa. Ya, sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit .

Jangan sampai kesadaran soal penyelamatan lingkungan baru muncul, setelah semua terlambat. Ibarat: bila pohon terakhir telah tumbang, sungai terakhir telah tercemar, dan ikan terakhir telah tertangkap, baru kita menyadari betapa hidup tak bisa dijalani cuma dengan berbekal uang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: