Oleh: SMP Negeri 1 Dolopo Madiun, Jawa Timur, Indonesia | 25 Mei 2008

Sekolah Internasional, Gengsi atau Kualitas?

Menyekolahkan anak di sekolah berkurikulum internasional makin banyak dipilih para orangtua. Persiapan menghadapi persaingan global ataukah sekedar gengsi?

Bangunan sekolah yang megah, fasilitas pendukung super lengkap, guru-guru yang “profesional”, serta bahasa Inggris sebagai pengantar, bahkan juga bahasa asing lainnya, merupakan salah satu ciri sekolah internasional yang kini menjadi pilihan sekolah masa kini.

Semua “keunggulan” tersebut kini banyak dicari para orangtua yang ingin anak-anaknya mendapat pendidikan terbaik. Salah satunya adalah Paramita (39), yang memasukkan putra sulungnya, Edwin (7) di Jakarta Singapore School. Meski harus mengeluarkan biaya cukup mahal, sekitar 4000 dollar Singapura per dua semester, namun Paramita mengaku sangat puas dengan kemajuan yang dicapai oleh Edwin.

“Biaya yang saya keluarkan sepadan dengan hasilnya. Bila berkomunikasi Edwin kini otomatis berbahasa Inggris, ia juga mengerti bahasa mandarin yang memang diajarkan di sekolahnya,” ucap Paramita, yang memang berencana agar Edwin melanjutkan SMP nya di Singapura.

Siap-Siap ke Dunia Internasional
Kelebihan sekolah internasional dibandingkan dengan sekolah umum adalah adanya kurikulum yang berbasis standar internasional.

Menurut psikolog Jacinta F. Rini, Msi, idealnya sekolah internasional mempersiapkan anak didiknya untuk memiliki kepribadian dan wawasan yang “internasional” setara dengan anak-anak di belahan dunia lain, termasuk juga nilai dan etikanya. “Jadi bukan hanya pintar dan cerdas, apalagi kalau hanya pintar menghapal,” ujarnya.

Kalau kita mau jujur, zaman sekarang masih banyak sekolah, guru, kurikulum, yang memberi pelajaran yang tak terlalu bermanfaat buat masa depan anak. Cara-cara yang dipakai juga masih satu arah, kurang menstimulasi daya pikir anak, dan kurang memberi kebebasan pada anak untuk beropini dan berkreasi.

Menurut Jacinta, dengan pola belajar demikian, anak akan mengalami tantangan besar kalau ia berada di “dunia internasional” karena mentalitasnya tidak siap dalam mengelola kebebasan.

“Kalau terbiasa diperintah, belajar berdasarkan instruksi, jawaban ulangan harus persis di buku, maka ketika pindah ke tempat yang memberi kebebasan penuh untuk berkreasi, kita malah sering grogi dan stres berat,” paparnya. Singkatnya, kita akan lebih suka diperintah daripada tidak tahu mesti mengerjakan apa.

Nah, sekolah internasional idealnya memberikan bekal bagi anak didiknya agar siap terjun menghadapi persaingan global. Oleh karena itu, sebelum memilih suatu sekolah, sebaiknya perhatikan apakah pemilik sekolah dan pengelolanya mengetahui apa yang dimaksud dengan internasional.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: