Oleh: SMP Negeri 1 Dolopo Madiun, Jawa Timur, Indonesia | 6 Juni 2008

Program Unggulan di Sekolah Internasional

Program unggulan memang harus dikembangkan di sekolah yang berbasis internasional. Mengapa ? karena untuk memberikan nilai lebih terhadap kelas reguler atau yang lainnya. Program unggulan yang senantiasa dilaksanakan dan dikembangkan mengacu beberapa hal, yaitu :

  1. Untuk kegiatan akademis yang berkualitas, kurikulum dikembangkan berdasarkan norma internasional.
  2. Dalam menghadapi tantangan ke depan yang kompleks dikembangkan tiga kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan Spiritual (SQ).
  3. Agar potensi kecerdasan siswa tumbuhkembang optimal, pembelajaran di sekolah berbasis pada Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligences). Pendekatan pembelajaran menggunakan PAKEM, I2M3 (interaktif, inspiratif, menantang, menyenangkan dan memotivasi), Pendidikan Abad XXI, Accelerated Learning.
  4. Penekanan pembelajaran pada kemampuan komunikasi (publik speaking), kerjasama (collaborating), dan pemecahan masalah (Problem Solving).

Beberapa bentuk program unggulan tersebut adalah :

  1. Pembelajaran Inovatif
    Dalam proses pembelajaran atau interaksi belajar mengajar guru siswa di lingkungan SMP Nasional KPS tetap mengacu pada standar proses pembelaran sesuai PP 19 Tahun 2005. Proses pembelajaran dimaksimalkan sedemikian rupa sehingga terasa hidup, memotivasi, interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian peserta didik sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologisnya.
  2. Bilingual
    Program bilingual merupakan upaya unggulan sekolah untuk mencapai standar sekolah yang kompetetif dalam rangka mendukung kepentingan sekolah sebagai lembaga penyedia jasa layanan pendidikan berbasis dasar-dasar sekolah internasional. Yang dimaksud dengan pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris adalah pembelajaran yang materi pelajaran, proses belajar mengajar, dan penilaiannya disampaikan dalam bahasa Inggris. Pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris ini tetap menggunakan kurikulum nasional yang berlaku. Kurikulum nasional yang dimaksud adalah Kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi (KBK), termasuk di dalamnya menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)). Jadi, pengembangan silabus dan pengembangan sistem penilaiannya juga mengacu pada kurikulum tersebut. Namun demikian, meskipun Kurikulum 2004 digunakan sebagai acuannya, sekolah dapat menambah, memperluas, dan memperdalam kurikulum yang berlaku sesuai dengan perkembangan internasional dalam bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dengan tetap memperhatikan nilai-nilai dan budaya Indonesia yang ada.
  3. Teknologi Komunikasi dan Informasi
    Teknologi informasi dan komunikasi, atau TIK, didefinisikan sebagai kombinasi antara teknologi informatika dengan teknologi-teknologi lain terkait, khususnya teknologi komunikasi. TIK digunakan, diaplikasikan, dan diintegrasikan pada pekerjaan dan pembelajaran dengan mengacu pada pemahaman konseptual dan metode-metode informatika. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di kelas tidak secara otomatis mengubah praktek rutinitas, kecuali para guru dan/atau pihak lain dengan sengaja mengubahnya. Kalaupun praktek pendayagunaan TIK di sekolah berubah, itu karena memang diakibatkan oleh pilihan sikap para guru untuk mengubah pendekatan pendidikan/pembelajarannya yaitu dengan cara mengubah norma dan praktek rutinitasnya Dua model berikut ini memberikan kerangka berpikir bagi sebuah pengembangan kurikulum TIK dan juga pengembangan profesional guru.
    Hasil penelitian mengenai pengembangan TIK di sejumlah negara maju dan berkembang menunjukkan adanya empat pendekatan besar di mana sistem pendidikan bergerak dari mulai mengadopsi hingga mengadaptasi TIK. Keempat pendekatan ini adalah (UNESCO, 2002):
    1) Hadir (Emerging),
    2) Aplikasi (Applying),
    3) Integrasi (Infusing), dan
    4) Transformasi (Transforming).
    Hasil penelitian di berbagai penjuru bumi tentang ini menggambarkan empat tahap besar di mana guru dan murid mempelajari mengenai TIK. Keempat tahap ini adalah (UNESCO, 2002):
    1) Mengenal Alat-alat TIK (Discovering ICT Tools),
    2) Belajar Bagaimana Menggunakan Alat-alat TIK (Learning How to Use ICT Tools),
    3) Memahami Bagaimana dan Kapan Menggunakan Alat-alat TIK (Understanding How and When to Use ICT Tools), dan
    4) Spesialisasi dalam Penggunaan Alat-alat TIK. (Specializing in the Use of ICT Tools)

    4. Pendidikan Multikultural
    Latar Belakang :
    Pendidikan adalah proses membuat orang berbudaya dan beradab. Pendidikan adalah kunci bagi pemecahan masalah-masalah sosial dan melalui pendidikan masyarakat dapat direkonstruksi. Rekonstruksi berarti reformasi budaya, dengan melalui pendidikan reformasi dapat dijalankan, terutama reformasi budi pekerti, reformasi kebudayaan (keindonesiaan), dan reformasi nasionalisme.
    Kemajemukan suku merupakan salah satu ciri masyarakat Indonesia yang seringkali dibanggakan. Banyak yang belum menyadari bahwa kemajemukan tersebut juga menyimpan potensi konflik yang dapat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemajemukan (pluralism) suku di Indonesia pada masa kini sudah berbeda gambarannya dengan kemajemukan suku masa lampau.
    Hubungan sosial di daerah pertemuan antarsuku tentunya lebih rumit karena adanya perbedaan budaya. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi proses pendidikan di sekolah. Operasional pendidikan kadang-kadang diskrimanatif. Hal ini dilakukan tanpa ada unsur sengaja, namun ada juga yang disengaja, selain karena dampak kelompok mayoritas karena tata nilai (values) dari para pelaku pendidikan itu.
    Tolstoy berpendapat sasaran puncak pendidikan ada di luar pendidikan (Achambault, dalam Freire, 2001:491), yaitu kebudayaan. Tolstoy beranggapan nilai-nilai masyarakat “beradab” akan tetap bertahan meski dihujani aneka ragam konflik atau ajang klaim-klaim yang saling bertentangan.
    Perlu adanya suatu upaya untuk memperkenalkan budaya kemajemukan suku bangsa di Indonesia kepada siswa/i SMP Nasinonal KPS.

    Tujuan
    Dengan diperkenalkan budaya dari suku bangsa yang lain, maka siswa akan :
    Memiliki keragaman pengetahuan tentang budaya dan tradisi dari suku bangsa lain di Indonesia.
    Menimbulkan rasa hormat menghormati (solidaritas) antar suku dalam bentuk kedamaian pergaulan sehari-hari.
    Memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa sedini mungkin.
    Terbentuknya iklim kedamaian di SMP Nasional KPS
    Sasaran :Seluruh civitas akademik di lingkungan SMP Nasional KPS
    Hasil Yang Diharapkan : Siswa akan memiliki pengetahuan tentang budaya lain di luar sukunya dan berupaya mengormati dan menghargai perbedaan budaya untuk menciptakan lingkungan sekolah yang damai.
    Rincian Kegiatan :
    1. Pemasangan poster tentang rumah tinggal adat seluruh suku dominan yang ada di Indonesia.
    2. Pemasangan poster tentang pakaian adat seluruh suku dominan yang ada di Indonesia. (M. Yd)

Iklan

Responses

  1. Hallo Bu Sriani, Gimana kabare??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: