Oleh: SMP Negeri 1 Dolopo Madiun, Jawa Timur, Indonesia | 17 Juni 2008

Jaring 107 Motor Konvoi Kelulusan

Pengumuman kelulusan sudah disampaikan Sabtu (14/6) lalu. Tapi, sejumlah siswa SMA masih larut dalam euforia. Kemarin mereka konvoi susulan sehingga ditangkap tim Satlantas Polwiltabes karena melakukan sejumlah pelanggaran.

Tak tanggung-tanggung, polisi menjaring 107 kendaraan roda dua sekaligus. Sepeda motor yang dikendarai para lulusan SMA itu ditangkap di sepanjang beberapa jalan protokol. Mulai Jalan Pemuda, Yos Sudarso, Panglima Sudirman, hingga Marmoyo.

”Mereka urakan dan arogan. Ada yang tidak pakai helm, berboncengan tiga, berjalan zigzag, dan naik sepeda motor protolan,” kata Kasatlantas Polwiltabes Surabaya AKBP M. Iqbal yang memimpin razia konvoi siswa tersebut.

Ketika akan ditangkap, beberapa siswa bahkan sempat menendang kendaraan petugas. ”Mendapat laporan itu, saya turun langsung ke lapangan. Ternyata benar, saya juga sempat akan ditabrak oleh mereka,” ucap alumnus Akpol 1991 itu.

Dari 107 kendaraan yang terjaring, tak semua disita petugas. Hanya 47 unit yang diamankan di Satlantas Polwiltabes Surabaya. ”Ke-47 kendaraan itu tanpa surat. Makanya, kendaraannya kami sita. Kebanyakan sepeda motor mereka protolan,” ujar Iqbal.

Sedangkan 60 unit sepeda motor lain hanya diamankan dokumennya. “Kami akan membina siswa-siswa itu,” janji mantan Koorspri Kapolda Jatim itu. “Bentuk pembinaannya, para siswa wajib didampingi orang tua ketika akan mengambil kendaraan atau surat sepeda motornya. Mereka harus dibina karena para lulusan itu sebenarnya aset bangsa,” sambung Iqbal.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya Ruddy Winarko menjelaskan, pihaknya sudah berusaha mencegah konvoi pelajar. Caranya meliburkan siswa pada hari pengumuman. “Kami juga meminta surat kelulusan dikirim melalui pos,” katanya.

Namun, cara tersebut belum mampu mencegah konvoi pelajar SMA yang lulus. Pantauan Jawa Pos kemarin, di kawasan SMA Kompleks masih terdapat pelajar SMA yang mengadakan konvoi. Seperti tidak menghiraukan pengendara lain, mereka berjalan beriringan menutup jalan. “Ini kan sudah tradisi dari tahun ke tahun,” kata seorang pelajar SMAN 16 sambil mencoretkan tanda tangan di baju sekolah temannya.

Rombongan pelajar dari SMAN 16 memulai konvoi dari depan sekolah mereka. Setelah itu, mereka bergabung dengan pelajar dari SMAN 14, SMAN 17, SMAN 10, SMA 17 Agustus, SMA IPIEMS, dan beberapa SMA lain di Jalan Slamet. Selain berkonvoi dan mencoret baju, mereka mengekspresikan kegembiraan dengan membuat coretan di jalan menggunakan cat semprot.

Ketika dikonfirmasi, Kepala SMAN 16 Surabaya Abu Djauhari mengaku hanya bisa menjamin kawasan sekolahnya steril dari hura-hura kelulusan. “Kalau mereka melakukan itu di luar sekolah, kami tidak dapat melarang” ujarnya.

Abu menambahkan, pihaknya juga telah melaksanakan perintah dinas pendidikan untuk mengumumkan kelulusan via surat ke rumah masing-masing siswa. Karena itu, tidak ada alasan bagi para siswa untuk datang ke sekolah. “Untuk mengatasi masalah yang sudah membudaya ini dibutuhkan kerja sama berbagai komponen. Selain dinas pendidikan dan sekolah, masyarakat dan orang tua harus saling membantu,'” katanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: