Oleh: SMP Negeri 1 Dolopo Madiun, Jawa Timur, Indonesia | 19 Oktober 2008

Fenomena Lebaran

Teman-teman, apa sih yang kalian rasakan ketika lebaran / iDUL Fitri tiba dan berakhir, setelah sebulan berpuasa, apa rasa senang, atau malah susah, atau bagaimana?? Ini salah satu artikel dari aku. Oya perkenalkan dulu nama aku Garin, Aku skul di SMPN 1 Dolopo Kelas 8B. Mungkin ada yang menganggap hari Raya Idul Fitri merupakan hari pembebasan dari hari wajib puasa, sehingga dapat makan apa saja di rumah siapa saja.

Kalau puasa tidak boleh pacaran, apel ke tempat pacar, tidak boleh ngrumpi, tidak boleh ngrokok, tidak boleh nonton yang porno-porno, cafe tutup, restauran tutup. Puasa membatasi hura-hura. Bedug Idul Fitri berbunyi. Setiap rumah menyediakan ketupat dan opor ayam, sayur lodeh, kue kering, sirup ABC, sirup marjan, coca cola, sprite. Setiap tuan rumah menghormati tamu-tamunya bagai Raja dengan menghidangkan segala macam yang enak-enak, sedangkan semua tamu pasti merasa tidak enak kalau tidak menghargai tuan rumah dengan makan apapun. Semuanya dicicipi, ada pengundang diabetes, pengundang asam urat, pengundang diare, pengundang diabetes. Semuanya oke, cicip..cicip.

Bagi beberapa orang, Idul Fitri berarti kehilangan masa-masa mengumpulkan tabungan pahala untuk bekal di akhirat yang sebanyak-banyaknya karena Tuhan menjanjikan barangsiapa yang bebruat amal di bulan ini maka pahala akan dilipatgandakan.

Walaupun Lebaran tahun ini kayaknya manusia menerima ujian dengan panas terik. Ada yang sakit diare, batuk-batuk. Orang-orang yang biasanya kuat juga terserang juga.

Anak-anak bergembira memakai baju-baju baru yang dibelikan bapak Ibunya jauh-jauh sebelum lebaran datang. Itulah yang dinantikan. Serba materialistik. Setiap masuk rumah ada angpao -amplop berisi uang dari 1000-an rupiah hingga 20.000-an, walau ada yang 50.000-an, tapi tidak banyak, mungkin ada di kalangan tertentu. Pasti mereka akan memilih rumah mana yang menyediakan angpao lebih banyak dan hidangan yang paling lezat, pemilik rumah yang cakep. Semuanya serba materialistik. Kunjungan-kunjungan tidak lagi ke tempat orang yang pantas dituakan, tetapi siapa yang mobilnya mewah, duitnya banyak, rumahnya megah. Ini hanya fenomena ekslusif saja di beberapa tempat.

Jika kita tarik ulur ke belakang lagi jauh-jauh sebelum lebaran, sebelum puasa tiba, banyak suara mercon, kembang api. Puasa memang selalu disambut dengan kemeriahan. Anak-anak, remaja gembira sekali dengan bulan puasa. Semakin banyak yang pergi ke masjid. Ada ta’jilan (makanan pembuka), makanan saat tadarus. Kegiatan masjid kian semarak pada bulan itu. Semua remajanya berkumpul, mendapat tugas mengambil ta’jilan di rumah warga yang kebagian jatah menyediakan ta’jilan. Ada yang pdkt gitu, cari-cari ttm (bisa teman tapi mesra, bisa juga teman tapi musuh, he..he..he). Bagaimana dapat mengambil ta’jilan bersama dengan taksirannya. Kemudian ketika tarawih, melirik-lirik taksirannya. Kalau biasanya tidak bisa adzan, terus mendadak adzan. Puasa betul-betul happy.

Sementara itu para orangtua membanting tulang untuk menyediakan buka yang lebih lezat, untuk membelikan baju baru buat keluarga. Terlebih yang ada di perantauan, pasti mereka berlomba membawa oleh-oleh yang banyak, kalau bisa bagi-bagi duit. mereka nggak mau dapat malu, merantau kok nggak punya banyak uang. Tega-teganya ada yang menggendam orang yang mau pulang ke kampung halaman. Sungguh-sungguh tidak berperasaan, hingga korban gendam itu bunuh diri karena tidak ada yang dibawa pulang ke kampuang. Semestinya yang nggendam itu bertemu dengan David atau Raffael agar dihipnotis lalu mau mengembalikan hasil rampasannya.

Adakah yang merasa kehilangan RAMADAN, suatu kesepian yang amat sangat ditinggalkan RAMADHAN dan Segala kemeriahannya. Puasa bersama-sama, sholat tarawih bersama-sama, sholat Subuh bersama, berbuka bersama-sama, membuat kolak bersama-sama. Pada malam-malam mendengar anak-anak menyalakan mercon, atau orang-orang men-tadaruskan Al Quran, menjelang Shubuh ada yang berteriak “SAHUR…SAHUR” dengan beraneka nada, kemudian mengumandangkan tanda “IMSYAK”, kalau maghrib ada sirine tanda berbuka, menjelang lebaran ada takbir di mana-mana. Rasanya semuanya itu hanya dapat muncul di bulan RAMADHAN. Semoga kita dapat berjumpa lagi dengan bulan RAMADHAN yang mulia, dapat menikmati kemeriahannya dan kekhusyukannya, lailatul qodarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: