Oleh: SMP Negeri 1 Dolopo Madiun, Jawa Timur, Indonesia | 19 Oktober 2008

Kiat Guru Di Tengah Siswa Yang Sudah Remaja

Saat mengajar, kadang guru kaget melihat siswanya tiba-tiba mengeluarkan bajunya dengan tanpa takut. Kadang pula, guru terkejut dengan siswa yang semula santun menjadi berteriak-teriak, rambut diacak-acak, dan celana ditulisi. Guru tersebut lalu menghukum siswa itu karena melanggar aturan sekolah. Si anak tidak malah kembali normal malah menjadi-jadi sikapnya. Guru malah tambah marah dan mengecap siswa itu nakal. Padahal, bisa jadi itu hanya sebuah gejolak masa remaja yang tidak bersifat tetap melainkan sesaat.

Siswa yang seperti itu justru normal karena mengikuti perkembangan pribadinya sesuai dengan masanya. Guru perlu memahami konsep remaja secara kuat dan masuklah ke dalam jiwa siswa dengan jiwa kesiswaan.

Siswa usia remaja biasanya memiliki jiwa petualangan yang identik ingin mencoba sesuatu yang baru yang orang lain tidak mengalaminya. baginya, yang penting berbeda dari orang lain dan dapat memberikan perhatian orang lain yang melihatnya. itulah masa menemukan identitas diri. Guru harus teramat paham akan masa petualangan ini.

Jiwa petualang bisa berkonotasi positif dan negatif. Secara negatif, siswa berada pada jiwa yang tidak mempunyai pegangan dan bergerak tanpa arah. Jiwa petualang membutuhkan masa depan yang jelas dan bermakna. Tugas guru adalah membimbingnya agar dapat “menemukan” masa depan yang jelas dan bermakna.

Ada empat hal yang dapat dilakukan yang akan membantu siswa remaja menentukan pilihan yang tepat untuk tindakannya. Pertama, menanamkan nilai moral agar pilihan yang dibuatnya berpagarkan tonggak-tonggak rohani. Kedua, mengajaknya bersandar pada Tuhan yang memberi kesempatan dan belajar menerima bagian yang Ia tentukan. Ketiga, memperbaiki kondisi lingkungannya—termasuk keluarga—agar dapat menciptakan diri yang positif. Keempat, mempersiapkannya untuk bisa mencapai tujuan hidupnya.

Masalah remaja memang kompleks namun itu tidak berarti tak teratasi. Setiap guru bisa terlibat dalam bagian tertentu dari permasalahannya dan setiap bagian yang telah dipulihkan akan membawa dampak positif pada bagian lainnya. Jadi, lakukanlah bagian guru masing-masing dengan iman, pengharapan, dan kasih.

Biasanya, remaja yang berpetualang itu menjadi sorotan bagi masyarakatnya dan tak jarang dianggap sebagai pengganggu kehidupan yang tenang. Banyak alasan mengapa masa remaja menjadi sorotan yang tidak lekang waktu. Psikologi sendiri memandang periode ini sebagai periode yang penuh gejolak dengan menamakan period of storm and stress. Arnett menarik tiga tantangan tipikal yang secara general biasa dihadapi oleh remaja; (1) konflik dengan orangtua, (2) perubahan mood yang cepat, dan (3) perilaku beresiko.

Peran teman sebaya yang mulai ‘menggeser’ peran orangtua sebagai kelompok referensi tidak jarang membuat tegang hubungan remaja dan orangtua. Teman sebaya menjadi ukuran bahkan pedoman dalam remaja bersikap dan berperilaku. Meskipun demikian studi Stenberg menemukan bahwa teman sebaya memang memiliki peran yang penting bagi remaja, namun pengaruh teman sebaya cenderung pada hal-hal yang berhubungan dengan gaya berpakaian, musik dan sebagainya. Sementara untuk nilai-nilai fundamental, remaja cenderung tetap mengacu pada nilai yang dipegang orangtua termasuk dalam pemilihan teman sebaya, biasanya juga mereka yang memiliki nilai-nilai sejenis.

Para guru harus berbesar hati dan membuka diri agar tidak tertipu oleh model rambut, mode pakaian, musik yang berdebum di kamar remaja, juga gaya bahasa yang tidak jarang membuat telinga terasa penuh. Kedekatanlah yang bisa membuka mata dan hati untuk melihat lebih jernih nilai-nilai yang sebenarnya dipegang remaja. Bukankah penemuan Stenberg menjadi angin segar dan harapan yang menggembirakan agar guru, orangtua atau keluarga tetap menjadi model utama. Hanya penampilan tentu tidak selalu sama, era digital bukankah membawa berjuta pilihan? Tidak hanya bagi remaja, tetapi juga orangtua.

Mood yang naik turun juga sering terdengar dari celetukan remaja, “Bete niiih..” Ada dua mekanisme di mana mood mempengaruhi memori guru. (1) Mood-dependent memory ,suatu informasi atau realita yang menimbulkan mood tertentu, atau (2) Mood congruence effects, kecenderungan untuk menyimpan atau mengingat informasi positif kala mood sedang baik, dan sebaliknya informasi negatif lebih tertangkap atau diingat ketika mood sedang jelek (Byrne & Baron, 2000). Bisa dibayangkan bagaimana perubahan mood yang cepat pada remaja terkait dengan kecemasan yang mungkin terbentuk.

Remaja juga mempunyai reputasi berani mengambil resiko paling tinggi dibandingkan periode lainnya. Hal ini pula yang mendorong remaja berpotensi meningkatkan kecemasan karena kenekatannya sering mengiring pada suatu perilaku atau tindakan dengan hasil yang tidak pasti. Keinginan yang besar untuk mencoba banyak hal menjadi salah satu pemicu utama. Perilaku nekat dan hasil yang tidak selalu jelas diasumsikan Arnett membuka peluang besar untuk meningkatnya kecemasan pada remaja.

Guru yang bertugas menghadapi siswa yang masih dalam gejolak perlu sabar, sadar, dan senang menghadapinya. Jadikanlah siswa sebagai kawan. Terbukalah atas segala keluhan siswa. Yakinlah masa gejolak itu akan lewat sejalan dengan pemikiran anak yang berkembang. (Mr. Sulistya, SMPN 1 Dolopo)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: