Oleh: SMP Negeri 1 Dolopo Madiun, Jawa Timur, Indonesia | 3 November 2008

CIUM TANGAN

SALAH satu aktivitas yang telah menjadi budaya di masyarakat adalah cium tangan. Ia bentuk lain dari bersalaman atau berjabat tangan. Cium tangan dapat diartikan sebagai bentuk penghormatan seseorang terhadap orang lain. Istri menghormati suami dengan, salah satunya, mencium tangannya. Jamaah menghormati kyai/ustadnya dengan mencium tangannya. Seorang anak menghormati orang tuanya dengan mencium tangannya. Seorang murid menghormati gurunya dengan mencium tangannya.Cium tangan juga dapat diartikan sebagai ekspresi cinta. Cinta yang mendalam, hakiki, mengandung rasa sayang yang tinggi. Beda artinya jika seorang lelaki mencium tangan perempuan yang dikasihinya.

Salah satu tempat di mana budaya cium tangan tumbuh subur adalah sekolah. Tepatnya sekolah bagi anak-anak SD, SMP bahkan SMA. Di sini cium tangan menjadi ritual tiap siswa saat bertemu dan hendak berpisah dengan guru.

Kemarin, ritual cium tangan sebagai akhir pertemuan guru-murid berjalan dramatis. Kebetulan saat itu pelajaran Bahasa IPA yang saya ajarkan sudah berakhir. “Anak-anakk yang duduk rapi boleh pulang,” ucap saya.

Maka duduklah mereka dengan rapi dan manis. Saya memanggil satu per satu anak-anak yang duduk rapi. Usai dipanggil mereka bangkit, maju ke depan, dan mencium tangan saya.

Namun ada saja anak-anak yang tidak sabar dipanggil. Mereka bangkit dan menghambur ke depan lalu mencium tangan saya. Melihat satu-dua anak melakukan demikian, anak-anak lain terprovokasi. Jadilah semua anak bangkit dan berebut mencium tangan saya.

Saya kewalahan. Tangan kanan saya yang terulur ke depan dipegang banyak anak. Masalahnya, anak-anak itu kesulitan mencium tangan saya. Terhalang tangan anak-anak lain. Saya pun merasa kesulitan untuk menarik telapak tangan dan mendekatkannya ke mulut tiap anak. Ya, tangan saya ditarik-tarik untuk didekatkan ke mulut mereka. Tangan saya seperti permen atau penganan jajanan di mata mereka.

Anak-anak adalah makhluk yang sangat lugu. Mereka melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang terprogram di otak mereka. Sedikit sekali terjadi variasi terhadap kegiatan yang telah menjadi kebiasaan mereka. Anak juga memiliki jiwa kesetiaan yang tinggi. Mereka tidak akan meninggalkan sesuatu sebelum merasa benar-benar tidak bisa melakukannya.

Begitu pula dengan cium tangan. Mereka berebut, berdesakan, dan bagi yang tubuhnya lebih kecil rela antre agak lama demi mendapat kesempatan mencium tangan guru yang dihormatinya. Mereka tahu akan mendapatkan kesempatan mencium tangan makanya tidak ada niat berpaling atau segera pulang sebelum berhasil meletakkan tangan guru di ujung mulut mungilnya.

Namun ada satu hal dari cium tangan mereka yang bisa ditoleransi: mencium tangan kiri. Anak yang bernafsu tinggi cepat pulang, karena kalah berebut mencium tangan kanan guru, melihat tangan kiri guru menganggur, di sambarlah tangan itu. Dibanding yang lain, jumlah mereka sangat sedikit. Sebab saya sangat yakin mereka akan merasa lebih puas jika berhasil mencium tangan kanan guru. Usai mencium tangan, mereka segera pulang tanpa banyak berkata-kata.

Itulah penghormatan anak. Sebentuk kebiasaan ritual verbal yang diajarkan guru dan orang tua. Bila mereka datang ke tempat belajar, orangtua mengingatkan anaknya untuk mencium tangan guru yang ditemuinya. Sang anak menurut saja. Apakah dilakukannya dengan ikhlas, tidak ada yang tahu. Keikhlasan mencium tangan baru terlihat ketika mereka, dengan inisiatif sendiri, mendekati guru dan mencium tangannya. Tiada paksaan atau suruhan orangtua dan guru.

Cium tangan adalah sebentuk ekspresi penghormatan dan rasa cinta yang hakiki. Itu ditunjukkan siswa-siswi SMPN 1 Dolopo kepada para gurunya. Saya sangat menyayangi mereka dan barangkali akan mencium tangan mereka sebagai ekspresi cinta saya. (Bu RINI, Guru IPA, SMPN 1 Dolopo)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: