Oleh: SMP Negeri 1 Dolopo Madiun, Jawa Timur, Indonesia | 28 November 2008

Belajarlah Dari Jepang

cimg7083 Seperti yang kita ketahui saat ini bangsa Jepang menjadi bangsa yang top markotob dalam segala hal, terutama dari bidang industri otomotif dan elektronik. Saat ini dalam hal teknologi, pendidikan, sarana dan prasarana umum Jepang dibandingkan dengan Indonesia bagaikan danau dan samudra, ketertinggalan kita bangsa Indonesia sudah terlalu jauh. Jepang bagaikan jet yang melesat dengan cepat ke angkasa, sedangkan saat ini Indonesia masih dalam proses belajar bagaimana mengendarai mobil.
Timbul rasa ingin tahu kenapa Jepang bisa melaju secepat itu, padahal dulunya mereka hanyalah bangsa yang miskin, menderita dan melarat terlebih lebih setelah peristiwa bom Hiroshima dan Nagasaki dan gempa besar di Tokyo.

Beberapa sifat dari bangsa Jepang yang sewajarnya kita contoh atau setidaknya kita pikirkan.
BELAJAR DAN BEKERJA KERAS.Jangan pernah berani menantang orang Jepang dalam hal bekerja keras, mereka terkenal dengan bangsa yang workaholic tiada hari tanpa bekerja. Badan mereka seperti sudah terhipnotis untuk selalu bergerak, bekerja, berpikir dan selalu berkarya. Jangan diam atau bengong, karena bengong sama dengan bodoh, dan bodoh sama dengan tidak terpakai alias tidak produktif. Kalau didalam perusahaan ada karyawan yang tidak produktif anda pasti sudah tahu bukan akan dia akan bernasib apa.

Mungkin di Indonesia pulang kerja tepat waktu pada sore hari itu merupakan hal yang wajar, melainkan di Jepang itu merupakan sesuatu hal yang memalukan, karena itu menandakan bahwa pegawai itu “tidak dibutuhkan”di perusahaan tempat dia bekerja.

Beberapa perusahaan Jepang di Batam ini juga kurang lebih menerapkan prinsip yang sama dengan negeri asalnya, sangat disiplin. Namun terkadang mereka mengurangi tingkat kedisiplinan bagi perusahaan mereka yang di Indonesia, selain karena harus mengikuti peraturan tenaga kerja di Indonesia juga karena perbedaan tingkat ketahanan fisik dan mental para karyawan Indonesia. Bagi yang sudah mempunyai pengalaman bekerja dengan orang Jepang pasti sudah tahu rasanya. Rasanya seperti romusha pada zaman penjajahan dulu.

Demikian juga halnya didalam dunia pendidikan, para siswa/i sangat candu untuk belajar. Sepulang sekolah jarang sekali kita menemukan para pelajar di mall ataupun tempat nongkrong anak muda, semuanya pada belajar dirumah.

Coba bandingkan dengan pelajar Indonesia, malah akan terjadi sebaliknya mereka akan mau membayar asalkan pulang cepat, apalagi kalau gurunya tidak masuk (absen) wah…senang sekali, satu kelas langsung bersorak ria…..

Di kampus kampus di Indonesia, seorang dosen mungkin sangat jarang bekerja sesuai dengan jam kerjanya, datang sebentar, kasih lembar fotokopi sama mahasiswanya kemudian pergi entah kemana, demikian juga mahasiswanya bersorak kegirangan.

Beda halnya dengan Jepang, seorang dosen sudah terbiasa pulang pagi dari kampus begitu juga dengan para mahasiswanya. Tiada waktu untuk bersantai ria.

Mungkin anda pernah dengar di Jepang ada seorang anak yang mati karena kecapekan belajar, dan juga fenomena Karoshi yang mati karena kecapekan bekerja. Di Indonesia terjadi sebaliknya, seorang pengangguran bisa mati karena kebanyakan “tidur” dirumah.

MALU ATAS KEGAGALAN.Pernah dengar kata Harakiri? Istilah itu dipakai oleh para samurai jika kalah dalam pertempuran atau gagal melaksanakan tugas maka dia akan bunuh diri dengan cara menusukkan pedang ke tubuhnya.

Sebenarnya tradisi itu sampai sekarang masih tetap terpelihara, namun nilainya mungkin sudah agak sedikit bergeser, di dunia pekerjaan seorang karyawan bisa saja mengundurkan diri secara tiba tiba, bukan karena diterima kerja ditempat lain melainkan karena gagal menjalankan tugas, tidak mencapai target penjualan, berbuat kesalahan, dll.

Sedangkan di dunia pendidikan seorang siswa dulu pernah ada yang bunuh diri dengan cara melompat dari atas gedung dikarenakan oleh nilai raportnya. Bukannya nilainya jelek atau merah, melainkan karena semester sebelumnya dia juara I dan semester yang sekarang dia cuma mendapat juara III.

Dalam hal ini penulis bukannya mengajak pembaca untuk resign dari tempat kerja jika anda gagal bekerja, atau bunuh diri karena dapat nilai jelek, hanya saja cuma mencoba menggambarkan bagaimana besarnya rasa tanggung jawab bangsa Jepang atas profesi dan tugas yang diembannya, meskipun tindakan yang mereka ambil agak sedikit “kelewatan” menurut kita, tapi bagi mereka itu wajar wajar saja.
HEMAT.Dulu saya pernah membaca sebuah kisah nyata antara 2 orang pendatang yang bekerja di Amerika, satu orang dari Jepang dan yang satunya lagi orang Indonesia dari Jakarta. Mereka bekerja di perusahaan yang sama dan berpenghasilan yang sama. Tapi tinggal di tempat yang berbeda. Si Indonesian tinggal di apartemen yang mewah, didalamnya lengkap dengan perabot dan alat alat elektronik yang mahal. Sedangkan si Jepang hanya tinggal di kamar kontrakan disebuah rumah, isi kamarnya hanya kasur, lemari dan sebuah radio butut. Dia pergi kekantor hanya dengan berjalan kaki, tidak seperti si Indonesian yang sudah membeli mobil kreditan yang baru.

Mungkin anda heran kenapa si Jepang ini berbuat hal bodoh demikian, itu dikarenakan oleh sifat hemat mereka yang sudah turun temurun. Dalam kenyataan kasus diatas jawabannya akan anda temukan di rekening bank mereka. Rekening si Indonesian ini hanya berisikan uang untuk biaya sampai akhir bulan ini, tapi rekening si Jepang luar biasa. Jika dicairkan semua sanggup untuk biaya hidupnya seumur hidup tanpa bekerja. Bahkan jika hidup berkeluarga sekalipun.

Saya juga pernah baca di salah satu artikel tentang masyarakat Jepang, kalau di Jepang sana seorang ibu rumah tangga rela naik sepeda ke supermarket yang 3 kali lebih jauh dari supermarket dekat rumahnya hanya karena harganya lebih murah 20 yen. Mereka juga lebih memilih naik kereta api listrik atau sepeda kekantor meskipun mereka mampu untuk membeli sebuah mobil.

Sekarang coba anda bandingkan dengan sifat masyarakat Indonesia, baru punya duit sedikit aja sudah langsung pergi ke shopping ke Singapore ataupun gonta ganti HP setiap bulannya, belum lagi kredit barang sana sini, padahal kalau rekening tabungannya dicek, mungkin uang yang didalamnya hanya sanggup untuk biaya hidup 3 hari. Jika sewaktu waktu dipecat dari tempat bekerja maka bersiap siaplah untuk hidup menderita, sungguh menyedihkan.
TUKANG CONTEK.Eit….jangan mikir negatif dulu, mencontek disini bukan berarti mencontek seperti pada umumnya, dimana lihat – tiru – buat. Namun dalam hal ini bangsa Jepang menerapkan prinsip ATM : Amati, Tiru, dan Modifikasi. Atau istilah kerennya dikenal dengan IMPROVISASI / INOVASI.

TV yang anda tonton saat ini, HP yang anda pegang saat ini, mobil atau sepeda motor yang anda kendarai saat ini bukanlah asli ciptaan Jepang, mereka hanya mencontek dari penemu aslinya yang mayoritas dari kalangan Bule. Namun mereka bukan sembarang mencontoh, melainkan memodifikasinya, membuatnya lebih indah dipandang mata, lebih ringan, lebih mudah digunakan, dan yang luar biasanya mereka bisa menjualnya dengan harga yang lebih murah.
SUKA MEMBACAJika anda masuk ke kereta api, pergi ketaman, duduk di antrian, anda mungkin merasa suasananya begitu kaku karena semua orang pada diam membaca, mereka tidak pernah menyia nyiakan waktu yang ada dengan percuma, waktu mengantri di bank mereka gunakan untuk membaca. Mereka lebih suka menunggu dengan membaca daripada bercakap cakap seperti layaknya orang Indonesia. Sejak kecil anak anak sudah diajarkan untuk rajin membaca, oleh karena itu di Jepang ada buku pelajaran yang namanya komik pendidikan, yaitu buku pelajaran yang dikemas dalam bentuk komik sehingga anak anak tidak akan bosan dan akan tertarik untuk membacanya.


Bangsa Jepang juga terkenal dengan sifat kebersamaannya, bekerja sama dalam satu team untuk mencapai satu tujuan sudah menjadi kebiasaan bagi mereka. Di perusahaan yang manajemen dan karyawannya adalah orang Jepang biasanya sangat jarang terjadi perpecahan, beda hal nya dengan kebanyakan orang Indonesia jika bekerja dalam team work jika menjumpai sebuah permasalahan akan saling menyalahkan satu dengan yang lain, mencari kambing hitam, main tikam belakang dan banyak lagi sifat buruk lainnya.

Beda halnya dengan Jepang jika menjumpai sebuah masalah dalam team work didalam sebuah perusahaan, mereka akan bekerja sama untuk memecahkan masalah tersebut. Saya juga dulu sempat tahu kalau di budaya Jepang itu ada istilah “diam dan hening” ketika menjumpai sebuah masalah. Dulu saya pernah meeting dengan para manajemen orang Jepang, saya heran kenapa semuanya pada diam dan menunduk. Bukannya berdoa ataupun ketiduran melainkan mereka “diam dan hening” untuk berpikir mencari solusi, kira kira 10 menit kemudian mereka semua berlomba lomba untuk mengajukan ide nya masing masing. Sifat ini juga masih berhubungan dimana sering kita dengar orang Jepang lebih banyak bekerja dan berpikir daripada berbicara. Beda halnya dengan kita…J

MANDIRI
Sejak usia dini anak anak sudah diajarkan untuk hidup mandiri, sampai akhirnya kebiasaan itu berlanjut hingga remaja dan dewasa. Di Jepang anak yang sudah menginjak bangku kuliah sangat jarang meminta uang kepada orang tuanya, rata rata mahasiswa di Jepang mempunyai pekerjaan sampingan atau kerja part time demi membiayai biaya sekolah dan jajan, mereka baru meminta uang kepada orang tuanya kalau keadaan sudah terpaksa sekali, dan itupun nantinya akan dikembalikan. Kebiasaan itulah yang membuat mereka hidup sukses dan mandiri tanpa bergantung kepada orang tua, sungguh sulit menemukan praktek Nepotisme di perusahaan Jepang, itu dikarenakan mereka merasa malu dikarenakan karena tidak mampu.

Masih ada beberapa budaya Jepang yang lain yang patut kita contoh, memang tidak semua budaya mereka bagus, ada juga beberapa budaya mereka yang tidak cocok dengan budaya kita Indonesia. Tapi sebagai orang yang ingin berpikir positif hendaknyalah kita melihat pandangan itu dari segi baiknya saja. (Bu Sri Utami, Guru B. Inggris SMPN 1 Dolopo)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: