Oleh: SMP Negeri 1 Dolopo Madiun, Jawa Timur, Indonesia | 19 Mei 2009

SEKOLAH BERPRESTASI

FOTO 1 CIMG6602 CIMG6621 CIMG6615
Biasanya saat mendengar tentang sekolah berprestasi, ingatan kita akan langsung tertuju pada sekolah yang lulusannya mampu menembus sekolah favorit di atasnya, atau sekolah yang lulusannya mampu menembus perguruan tinggi ternama, atau juga sekolah yang muridnya memenangi berbagai kejuaraan.

Sejajar dan inheren dengan istilah itu adalah anak berprestasi. Atas nama prestasi itulah kemudian muncul sekolah-sekolah yang mengedepankan prestasi (baca: pencapaian akademis) dan konsekuensinya sekolah-sekolah itu biasanya mahal. Kita sebagai orang tua pun dengan rela meroboh kocek lebih dalam demi pendidikan anak-anak kita tersebut.

Masih belum cukup, kadang-kadang kita bekali anak-anak kita itu dengan berbagai macam kursus. Kita dorong anak kita untuk menjadi yang terbaik. Tanpa sadar kita telah memberlakukan sekolah sebagai ajang kompetisi, dan pada akhirnya kita juga menuntut anak kita untuk menjadi juara dalam kompetisi itu. Bukankah kita kerap mendorong anak kita menduduki rangking nomor satu di sekolahnya?
Sekolah kini menjadi ajang untuk mengalahkan orang lain, juga ada kasta-kasta di dalamnya: kasta anak pandai dan kasta anak bodoh.
Salahkah keinginan untuk berprestasi itu? Sama sekali tidak. Masalahnya ternyata setelah sekian lama dunia pendidikan kita bergelut dengan sistem dan kasta-kasta ini, tidak ada hasil signifikan darinya. Mutu pendidikan kita tetap rendah dan para lulusannya tetap tidak bisa apa-apa. Bukan keinginan prestasi itu yang salah, tetapi ternyata proses pencapaiannya yang salah. Prestasi yang kita pahami ternyata telah tereduksi menjadi sekadar pencapaian akademis dan angka-angka (dan juga piala-piala). Kita telah melupakan satu sisi terpenting dari ilmu pengetahuan: tradisi keilmuan.

Tradisi keilmuan berbeda dengan prestasi keilmuan. Prestasi keilmuan bersifat sesaat. Itulah sebabnya kita kemudian bisa paham, kenapa seseorang dengan nilai matematika yang bagus ternyata tidak mampu berpikir logis. Atau seseorang dengan nilai ilmu alam yang tinggi ternyata tidak mampu memecahkan masalah dengan ilmunya itu. Seseorang dengan nilai pelajaran sejarah yang tinggi ternyata tidak membuat dia paham terhadap lingkungan sosialnya, hubungan antar manusia dan antar bangsa, serta kepekaan kebangsaan dan kemanusiannya

Sementara tradisi keilmuan bersifat permanen. Seorang anak yang memiliki tradisi keilmuan tetap akan belajar sepanjang hayatnya. Dia tetap akan belajar dan mencoba mencari jawaban atas tantangan jamannya. Mereka akan mencari pencapaian baru sepanjang hidupnya. Mereka akan belajar tidak untuk sekadar sebuah prestasi, melainkan untuk mengubah diri mereka sendiri. Untuk berproses menjadi manusia paripurna.

Karena itu penting bagi kita untuk mengembangkan tradisi keilmuan ini. Tradisi untuk selalu ingin tahu, mempunyai daya eksplorasi tinggi, berpikir secara runut, berpikir logis, dan seterusnya. Bahwa kemudian tradisi keilmuan ini diikuti oleh prestasi keilmuan itulah yang kita harapkan. Tetapi kita ingin prestasi itu dicapai terus-menerus dan karenanya pencapaian itu mungkin tidak tercatat di ruang-ruang kelas atau pada lomba-lomba. Prestasi keilmuan mereka akan tercatat dalam ruang kehidupan mereka. Terpatri dalam masalah-masalah hidup yang mampu mereka pecahkan dan mereka sumbangkan bagi sesama manusia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: