Oleh: SMP Negeri 1 Dolopo Madiun, Jawa Timur, Indonesia | 4 November 2009

PRINSIP SEBUAH KEPERCAYAAN TERHADAP GENERASI MUDA

16237_104149079600826_100000172048026_120533_8258941_n
16237_104149129600821_100000172048026_120548_1792223_n 16237_104149082934159_100000172048026_120534_2196961_n 16237_104149086267492_100000172048026_120535_2403806_n
Kita mungkin sering mendengar pernyataan sebuah iklan yang kerap kali muncul di televisi itu. Iklan tersebut mengisahkan seorang pemuda yang hendak pergi presentasi, mungkin ke sebuah perusahaan lain, partner tempat ia bekerja. Tetapi ada yang cukup menarik dan menggelitik yang dikedepankan di sana.

Wacana tentang pemuda (pelajar atau mahasiswa) yang harus merubah sedemikian rupa penampilannya menjadi orang tua oleh bosnya sendiri agar dipercaya oleh orang lain. Karena ternyata orang tua lebih dipercaya daripada seorang pemuda.
Namun kadang kita sebagai orang yang lebih tua, kadang memandang remeh terhadap ilmu, kemampuan atau potensi yang dimiliki anak-anak kita, siswa sebagai penerus cita-cita bangsa. Kadang kita sebagai yang tua merasa lebih cukup ilmu dan pengalaman, sehingga selalu menilai rendah pandangan atau kemampuan anak atau anak didik kita.
Hal ini memang menjadi sebuah kenyataan besar yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, bahwa masyarakat ternyata lebih percaya kepada fisik yang lebih tua, mungkin karena dianggap lebih banyak pengalaman dan ilmu dibandingkan pemuda dalam hal tertentu, tetapi pada hal-hal yang lain justru pemuda dieksplorasi habis-habisan karena dianggap memiliki potensi dan tenaga yang lebih.

Kita harus mengakui memang benar bahwa orang-orang tua kita jelas lebih berpengalaman dan lebih banyak ilmunya, kalau sebuah ungkapan mengatakan, lebih banyak makan asam garam kehidupan. Yup, benar sekali. Tetapi apakah usia menjadi sebuah patokan mutlak untuk menjadikan parameter sebuah prestasi? Tua ataupun muda tak menjamin apa-apa untuk sebuah kompetensi prestasi. Jika kita sebagai pemuda baimana kalau kita ubah pernyataan iklan tersebut menjadi seperti ini :

“Yang muda, yang dipercaya”

Lantas, cukupkah sampai disitu saja? Tentu tidak. Pernyataan tersebut harus dapat kita pertanggungjawabkan. Jika kita berani mengatakan bahwa kita dapat dipercaya, maka kita harus buktikan keseriusan tersebut. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan meningkatkan kualitas diri kita, kita harus BERUBAH. Siapa saja yang tidak bisa beradaptasi dengan perubahan, maka ia akan tertinggal. Pemuda adalah aset peradaban dan dengan keberadaan pemuda, sebuah peradaban akan tetap berlanjut. Pemuda sebagai iron stock atau cadangan masa depan, sejak saat ini harus mampu survive di era yang penuh persaingan seperti zaman sekarang. Era yang berbasis kompetensi.

Tidak perlu malu, siapa sih yang tidak ingin mendapatkan penghasilan yang besar dengan cara yang tidak perlu bersusah-susah. Diakui memang, membuka usaha sendiri jauh lebih sulit dibandingkan dengan menjadi seorang karyawan tetapi jika ada kemauan dan kerja keras, akan selalu ada jalan. Kita bisa melihat betapa banyaknya pemuda yang berjubel-jubel untuk antri mengikuti ujian CPNS bahkan sampai beratus ribu orang. Di kesempatan lain pula, kita sering melihat antrian para pelamar kerja ermasuk saya yang memiliki harapan agar dapat diterima menjadi karyawan di perusahaan-perusahaan yang mereka tuju. Tetapi segala sesuatunya harus dilalui dengan kerja keras dan persaingan. Menjadi pengusaha pun kita juga akan melewati ujian yang lebih berat lagi, persaingan yang lebih ketat bahkan intrik-intrik yang tidak kita duga sama sekali bisa terjadi.

Lantas semboyan “Yang muda, yang dipercaya” kenapa tidak kita jadikan motivasi diri untuk berfikir lebih maju? Menjadi apa pun kita, pengusaha, karyawan, guru, atau apapun itu, semboyan tersebut dapat berlaku. Sebagai pemuda, tentu kita harus memiliki beberapa kelebihan agar kita dapat dipercaya. Kalau kita mengingat shirah sahabat rasulullah saw, rata-rata mereka adalah orang-orang yang sangat dipercaya. Selesai pekerjaan yang satu, sudah ada orang lain yang mencari mereka untuk diambil jasanya. Begitu setiap harinya sehingga mereka selalu sanggup untuk menginfaqkan rezekinya kepada orang lain tanpa takut kekurangan.

Beberapa kelebihan tersebut dapat kita adopsi dari prinsip perubahan sebuah perusahaan, yaitu kualitas SDM antara lain keahlian (skill), ilmu pengetahuan dan wawasan (knowledge), serta akhlak (attitude). Ketiganya harus kita miliki dalam proporsi yang pas. Selanjutnya pengetahuan dan penguasaan terhadap teknologi dan sistem. Jika digambarkan dalam diagram segitiga, bentuknya seperti ini :

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: