Oleh: SMP Negeri 1 Dolopo Madiun, Jawa Timur, Indonesia | 24 Desember 2011

LOMBA KEBERSIHAN KELAS MEMPEREBUTKAN PIALA BERGILIR



Sulit kalau mau bilang bahwa kebersihan kelas tidak memicu semangat belajar. Kita juga nggak bisa membantah kalau ada yang bilang, kelas yang bersih membuat suasana belajar dan mengajar jadi nyaman dan kondusif.

Banyak hal yang bisa ditempuh agar kelas tempat kita belajar tetap bersih dan nyaman. Mulai dari membiasakan diri menjaga kebersihan, seperti tidak membuang sampah sembarangan, membersihkan sepatu sebelum masuk kelas, menyapu kelas secara rutin dan cara lain.
Cara yang paling umum dan populer, dari zaman dulu hingga kini adalah membersihkan kelas sendiri. Ya, para siswalah yang membersihkan kelasnya agar suasana kelas nyaman dan membuat belajar semakin semangat.
Bagaimana jalannya praktik kebersihan kelas dan menjaganya agar tetap berjalan pada jalur yang benar? Maka dibentuklah jadwal piket di setiap kelas. Bisa dibilang, jadwal piket di sekolah jadi syarat sah sebuah kelas. Ya, seluruh sekolah punya jadwal piket tetap (100 persen), yang mengatur bersih-bersih kelas. Melalui jadwal piket ini, para relawan cleaning services mingguan ini diberikan berbagai macam tugas guna menjaga kebersihan kelas.
Apapun namanya, para tukang bersih-bersih ini memiliki tugas utama untuk membuat kelas jadi nyaman dan menjaga kelas agar bersih selalu, entah itu dengan cara menyapu kelas ataupun mengepelnya (92 persen) serta tugas lainnya. Tapi yang pastinya, tujuan utama tugas piket untuk membuat kelas nyaman (40 persen), menjaga kelas agar bersih selalu (60 persen).
Apa semua siswa mematuhi jadwal piket kelasnya ya? Hmmm…sebagian besar sobeX (60 persen) juga pernah melakukannya dengan berbagai alasan. Dan, 28 persen justru melakukannya jarang-jarang alias beberapakali. Hanya 12 persen saja yang selalu mematuhi jadwal piket.
Setiap peraturan yang dilanggar, tentu ada konsekuensinya. Sanksipun wajib diterima bila melanggarnya, yang namanya peraturan harus dilaksanakan. Begitu juga bila tidak melaksanakan tugas piket kelas, wajib terima hukumannya. Mulai dari dimarahi guru/wali kelas (28 persen), dihukum (52 persen) dan dikasih peringatan (20 persen).
Cara-cara diatas ternyata belum juga bisa menumbuhkan minat dan kesadaran siswa untuk menjaga kebersihan kelasnya. Namun ada beberapa sekolah yang menggunakan semacam metode perlombaan kebersihan kelas dengan cara memperebutkan piala bergilir dari Kepala Sekolah sebagai kelas terbersih dan terapi dalam 1 pekan atau 1 bulan. Pengumuman pemenang sebagai kelas terbersih dilakukan setiap upacara bendera hari Senin.
Dari beberapa sekolah yang menggunakan metode ini, ternyata cukup ampuh dalam menjaga kebersihan kelas beserta lingkungannya. Karena dari masing-masing anak akhirnya mempunyai kesadaran dan motivasi untuk menjaga kebersihan bangku dan kelasnya masing-masing. Lalu… bagaimana dengan sekolah kita?

Iklan

Responses

  1. menanamkan pola hidup bersih,di usia dini it penting.
    nice,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: